Polsek Tilatang Kamang & Puskesmas: Sosialisasi Dan Edukasi Tiga Ancaman Krusial Mengancam Generasi Muda
- account_circle Muhammad Yaman
- calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
- visibility 148
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Tilatang Kamang – Tidak ada lagi tempat bagi ketidaktahuan. Sosialisasi dan edukasi bertajuk “Pemahaman serta Penanganan Perundungan, Isu LGBT, dan Bahaya NAPZA” berlangsung tegas dan penuh kesadaran di PPTI Gobah V Surau, Rabu (15 Juli 2026). Di hadapan pelajar, pendidik, dan tokoh masyarakat, kegiatan ini menjadi peringatan keras: kita tidak akan membiarkan masa depan anak-anak kita dirusak.
Aipda Hendri beserta tim Polsek Tilatang Kamang tampil lugas, tanpa bertele-tele. Bersama perwakilan Puskesmas, beliau membuka fakta pahit: tiga ancaman ini kini mengintai keluarga, merusak lingkungan, dan mengancam masa depan generasi penerus kita.
Aipda Hendri menegaskan, perundungan bukan sekadar “candaan anak-anak”. Ini adalah kekerasan dalam berbagai wujud:
– Fisik: Memukul, menendang, mendorong, merusak barang — serangan langsung pada raga.
– Verbal: Mengejek fisik, suku, ekonomi, menghina dengan sebutan kasar — kata yang menusuk lebih tajam dari senjata.
– Sosial: Mengucilkan, menyebar fitnah, memutus tali persaudaraan — mematikan harga diri perlahan.
– Maya: Sebar foto/video tanpa izin, ancam di media sosial — lukanya menyebar ke seluruh penjuru.
– Psikologis: Tatap sinis, sebar rahasia, meremehkan kemampuan — menghancurkan mental tanpa jejak fisik.
“Semua ini melanggar agama, norma, dan budaya. Dampaknya bukan main-main: trauma seumur hidup, hancurnya kepercayaan diri, hingga risiko kehilangan nyawa. Diam kita sama dengan membiarkan kekerasan tumbuh,” tegas Hendri.
Cegah Sekarang!
Tanam empati, bangun komunikasi terbuka di rumah dan sekolah, ajak anak menyelesaikan masalah tanpa kekerasan, awasi penggunaan gawai dengan bijak.
Jika Terjadi: Bertindak!
– Korban: Jangan diam, tinggalkan lokasi, ceritakan pada orang terpercaya, simpan bukti.
– Saksi: Jangan tertawa, jangan diam — bantu korban, laporkan fakta.
– Pihak berwenang: Dengar tanpa menyalahkan, selidiki adil, bimbing pelaku, lindungi korban.
Tentang bahaya NAPZA, pesannya singkat namun mematikan: Satu kali coba, masa depan bisa hancur seketika.
Banyak kasus bermula dari hal yang dianggap sepele: merokok.
– Iseng coba rokok → terbiasa melanggar larangan → mencari sensasi lebih kuat → terjebak zat berbahaya.
– Menganggap “sama saja hisap” tanpa sadar risiko kerusakan otak, tubuh, dan jeratan hukum yang menanti.
“Jangan biarkan kebiasaan kecil merampas cita-cita besarmu. Tolak rokok, tolak segala pintu menuju kehancuran,” seru Hendri kepada para pelajar.
Beliau juga menyoroti pelanggaran yang makin merajalela: pelajar bawa kendaraan tanpa SIM, muat penumpang berlebih, knalpot bising, abaikan rambu. “Keselamatan bukan mainan. Jadilah pelopor disiplin, demi nyawa diri sendiri dan orang lain,” tandasnya.
Dari pihak Puskesmas, pemaparan disampaikan dengan tegas merujuk pada ajaran agama dan budaya Minangkabau yang menjunjung tinggi kesucian keluarga. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk melindungi. Kita harus peka sejak dini, berikan arahan yang benar, dan selamatkan anak-anak dari pengaruh yang menyimpang.
Kegiatan ini ditutup dengan harapan: ilmu ini tidak berhenti di ruangan, tapi disebarkan dan diamalkan. Langkah nyata ini pun dipuji luas tokoh masyarakat, pendidik, dan aktivis — dinilai tepat sasaran dan sangat dibutuhkan saat ini.
(Fk/YamanLbs)
Jurnalis : Muhammad Yaman
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 18 April 2024 sebagai Jurnalis Kab. Agam - Sumatera Barat. Email : muhammad.yaman@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar