MJP Hutagaol: Peradaban Modern Harus Kembali Menemukan Keseimbangan dan Nurani
- account_circle Suwoto
- calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
- visibility 182
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan global yang semakin kompleks, manusia dinilai perlu kembali menemukan keseimbangan hidup serta memperkuat hubungan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan nurani.
Pandangan tersebut disampaikan Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol melalui tulisan reflektif berjudul “Gerbang yang Tidak Dibangun dari Batu: Meditasi Pagi tentang Manusia, Nusantara, dan Dunia”.
Dalam tulisannya, MJP Hutagaol mengajak masyarakat untuk merenungkan kembali arah perjalanan peradaban modern yang bergerak sangat cepat, namun kerap melupakan pertanyaan mendasar mengenai tujuan akhir dari kemajuan tersebut.
Menurutnya, setiap zaman memiliki “gerbang” peradabannya masing-masing, baik yang dibangun melalui kekuasaan, ilmu pengetahuan, maupun rasa takut. Namun, gerbang sejati yang mampu membawa manusia melampaui dirinya sendiri sesungguhnya berada dalam diri manusia itu sendiri.
“Peradaban modern berhasil memperpendek jarak antarbenua, tetapi belum tentu memperpendek jarak antara manusia dan nuraninya,” tulis MJP Hutagaol.
Ia menilai, kemajuan teknologi telah membuat manusia mampu melihat bumi dari angkasa dan mengendalikan berbagai aspek kehidupan. Namun di sisi lain, manusia justru menghadapi tantangan dalam memahami dirinya sendiri, mengendalikan keinginan, serta menjaga keseimbangan hidup.
Dalam refleksinya, MJP Hutagaol menegaskan bahwa Nusantara sesungguhnya mewarisi nilai-nilai luhur yang relevan untuk menjawab tantangan zaman. Salah satunya adalah filosofi keseimbangan dalam kehidupan.
“Kehidupan bukanlah perlombaan untuk menaklukkan, melainkan seni menjaga keseimbangan,” ungkapnya.
Ia menggambarkan bahwa alam semesta memberikan pelajaran penting tentang batas dan harmoni. Gunung tidak meninggi untuk merendahkan, laut tidak meluas untuk memiliki, dan matahari tidak bersinar untuk dipuji. Semua hadir sesuai fungsinya masing-masing.
Sebaliknya, manusia sering kali terjebak dalam keinginan untuk memiliki lebih banyak daripada yang dapat dijaga, mengetahui lebih banyak daripada yang dapat dipahami, serta mengatur lebih jauh daripada yang mampu dipertanggungjawabkan.
Menurutnya, kehancuran suatu peradaban tidak selalu dimulai dari runtuhnya bangunan fisik, tetapi ketika manusia kehilangan rasa cukup dan menjauh dari nilai-nilai kebijaksanaan.
Dalam bagian akhir tulisannya, MJP Hutagaol mengajak masyarakat untuk meneladani sifat cahaya yang hadir setiap pagi secara tenang, tanpa memusuhi kegelapan maupun mengumumkan kemenangan.
“Bentuk tertinggi dari kebijaksanaan bukanlah mengalahkan dunia, melainkan menjadi cukup jernih sehingga dunia tidak lagi perlu ditaklukkan,” tulisnya.
Tulisan reflektif tersebut ditutup dengan ungkapan “Rahayu Sagung Dumadi”, sebuah doa dan harapan agar manusia kembali mengenali batas dirinya, menemukan keseimbangan, serta mampu memberikan arah bagi peradaban dunia yang tengah menghadapi berbagai tantangan.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar