Laut, Spiritualitas, dan Kekuasaan Nusantara: Dari Kwan Im, Kosmologi Bali, Ratu Kidul hingga Presiden Indonesia
- account_circle Suwoto
- calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
- visibility 165
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Laut bagi masyarakat Nusantara tidak pernah sekadar bentangan air. Sejak berabad-abad lalu, laut menjadi jalur perdagangan, migrasi, peperangan, penyebaran agama, sekaligus ruang pertemuan berbagai kebudayaan.
Dalam perjalanan panjang tersebut, laut juga memperoleh makna spiritual dan simbolik. Berbagai masyarakat melahirkan tradisi, ritual, mitologi, dan figur yang dikaitkan dengan keselamatan, alam, maupun kekuasaan.
Fenomena itu menjadi bagian penting dalam tulisan Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol berjudul “Laut, Spiritualitas, dan Kekuasaan Nusantara: Dari Kwan Im, Kosmologi Bali, Ratu Kidul hingga Presiden Indonesia”, yang ditulis di Jakarta, 13 Agustus 2026.
Tulisan tersebut secara metodologis membedakan fakta sejarah, tradisi keagamaan, legenda, kesaksian, serta teori atau narasi konspirasi. Fenomena supranatural tidak ditempatkan sebagai fakta empiris apabila tidak memiliki bukti yang dapat diverifikasi.
Dalam tradisi Buddhisme Mahayana dikenal figur Avalokiteśvara, bodhisattva yang diasosiasikan dengan welas asih. Dalam perkembangan Buddhisme di Tiongkok, figur tersebut dikenal sebagai Guanyin atau Kwan Im.
Dalam sejumlah tradisi Asia Timur berkembang pula figur Guanyin Laut Selatan atau Nanhai Guanyin, yang antara lain dikaitkan dengan pertolongan dan keselamatan manusia dalam menghadapi bahaya, termasuk perjalanan melalui laut.
Namun, istilah “Laut Selatan” dalam tradisi tersebut tidak serta-merta dapat disamakan dengan Laut Selatan Jawa.
Jejak Avalokiteśvara sendiri telah ditemukan dalam lingkungan Buddhisme Jawa kuno. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan intelektual dan keagamaan antara Nusantara dengan jaringan kebudayaan Asia pada masa lampau.
Sementara itu, Bali mempunyai kosmologi tersendiri yang menempatkan laut atau segara dalam posisi penting dalam kehidupan keagamaan dan ritual.
Hubungan Bali dengan Jawa juga berlangsung jauh sebelum era Majapahit. Pada sekitar abad ke-10 hingga awal abad ke-11, hubungan politik dan dinasti antara Bali dan Jawa Timur terlihat antara lain melalui Raja Udayana Warmadewa dan permaisurinya, Mahendradatta.
Dari lingkungan keluarga tersebut lahir Airlangga yang kemudian menjadi salah satu raja penting di Jawa Timur.
Hubungan Jawa-Bali semakin kuat pada periode Majapahit dan terus berkembang melalui perjalanan tokoh agama, jaringan perdagangan, serta pertukaran kebudayaan.
Karena itu, kemiripan simbol mengenai laut tidak otomatis menunjukkan bahwa berbagai figur spiritual tersebut merupakan satu tokoh atau berada dalam satu struktur kekuasaan supranatural.
Di Jawa, hubungan antara laut, spiritualitas dan kekuasaan berkembang dalam tradisi Mataram.
Panembahan Senapati atau Danang Sutawijaya merupakan tokoh sejarah dan pendiri Mataram Islam. Di samping catatan sejarah mengenai dirinya, berkembang pula berbagai kisah tradisional mengenai hubungannya dengan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan dalam tradisi Jawa.
Kawasan Parangtritis dan Parangkusumo di Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salah satu ruang penting dalam tradisi tersebut.
Parangtritis merupakan kawasan pesisir yang luas, sedangkan Parangkusumo dikenal sebagai salah satu lokasi penting dalam tradisi Keraton Yogyakarta. Di kawasan tersebut terdapat Cepuri Parangkusumo dengan sejumlah situs yang oleh tradisi dikaitkan dengan Panembahan Senapati dan Kanjeng Ratu Kidul.
Dalam tradisi Keraton Yogyakarta, kisah pertemuan Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kidul berada dalam ranah legenda dan tradisi budaya.
Sementara itu, Labuhan Parangkusumo merupakan tradisi budaya yang nyata dan terus diwariskan.
Tulisan MJP Hutagaol menekankan bahwa penting membedakan antara kisah tradisional dengan fakta sejarah.
Pertanyaannya bukan semata-mata apakah pertemuan supranatural tersebut benar-benar terjadi, melainkan mengapa kisah itu mampu bertahan selama berabad-abad dan memperoleh tempat dalam kebudayaan Jawa.
Dalam perspektif budaya, Kanjeng Ratu Kidul dapat dibaca sebagai bagian dari simbol hubungan manusia, alam dan kekuasaan.
Konsep tersebut kemudian sering dikaitkan dengan gambaran simbolik:
Merapi — Keraton Yogyakarta — Parangtritis/Parangkusumo — Laut Selatan.
Gunung berada di utara, pusat kekuasaan berada di tengah, sedangkan laut berada di selatan.
Dalam konteks kebudayaan, susunan tersebut dapat dipahami sebagai gambaran hubungan kosmologis antara manusia, alam dan kekuasaan.
Indonesia kemudian mengalami perubahan besar. Sistem kerajaan secara bertahap digantikan oleh negara modern dan akhirnya Republik Indonesia.
Legitimasi kekuasaan dalam negara republik tidak bersumber dari wahyu keprabon, melainkan dari sistem ketatanegaraan dan konstitusi.
Namun, perubahan sistem politik tidak serta-merta menghapus memori budaya yang telah terbentuk selama berabad-abad.
Jejak mitologi dan simbol lama kemudian muncul dalam berbagai cerita mengenai tokoh-tokoh politik Indonesia.
Salah satunya berkaitan dengan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Di kawasan Pelabuhan Ratu, Jawa Barat, berdiri Samudra Beach Hotel yang dibangun pada masa pemerintahan Soekarno. Salah satu bagian hotel kemudian terkenal dengan Kamar 308 yang dalam tradisi masyarakat dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul.
Keberadaan kamar dan asosiasi budayanya merupakan bagian dari cerita yang berkembang di masyarakat. Namun, berbagai cerita yang menyebut Soekarno secara khusus menyiapkan kamar tersebut berdasarkan hubungan atau perjanjian spiritual harus ditempatkan sebagai legenda atau penuturan, bukan fakta sejarah apabila tidak didukung dokumen primer yang memadai.
Tulisan tersebut juga menyoroti narasi yang menghubungkan hubungan Soekarno dengan Nyi Roro Kidul dengan kedekatannya terhadap Muhammadiyah.
Secara kronologis, narasi tersebut perlu dikaji secara hati-hati.
Soekarno telah mempunyai hubungan dengan Muhammadiyah sejak berada di Bengkulu dan dikenal menjadi anggota Muhammadiyah pada 1938. Ia juga pernah terlibat dalam bidang pendidikan Muhammadiyah.
Karena itu, narasi bahwa Soekarno baru mendekati Muhammadiyah pada periode akhir kehidupannya perlu ditempatkan secara kritis dan dibandingkan dengan catatan sejarah yang tersedia.
Soekarno wafat pada 21 Juni 1970.
Persoalan mengenai tempat pemakamannya juga melahirkan berbagai cerita, termasuk mengenai Batutulis, Bogor, dan keputusan pemerintah yang kemudian menetapkan Blitar sebagai tempat pemakamannya.
Perbedaan antara keinginan atau pandangan Soekarno mengenai tempat peristirahatan terakhir dengan keputusan negara merupakan persoalan sejarah yang dapat diteliti melalui dokumen dan sumber primer.
Sementara cerita yang menghubungkan keputusan tersebut dengan pertimbangan kekuatan spiritual di Batutulis berada dalam ranah narasi atau mitologi politik apabila tidak didukung bukti primer.
Pembedaan ini penting agar mitologi politik tidak berubah menjadi “fakta” hanya karena terus-menerus diceritakan.
Setelah Soekarno, Indonesia memasuki era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.
Soeharto tumbuh dalam lingkungan kebudayaan Jawa. Istrinya, Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto, juga memiliki hubungan dengan lingkungan Mangkunegaran.
Latar belakang tersebut kemudian menjadi salah satu konteks munculnya berbagai cerita mengenai kebatinan Jawa, lingkungan elite, dan Kanjeng Ratu Kidul.
Namun, cerita bahwa Ibu Tien secara literal menjadi penghubung antara Soeharto dan Kanjeng Ratu Kidul belum memiliki pembuktian sejarah yang cukup untuk ditempatkan sebagai fakta.
Begitu pula narasi yang menyebut perpindahan dukungan spiritual dari Soekarno kepada Soeharto atau menghubungkan korban tragedi 1965–1966 dengan konsep “tumbal” kekuasaan tidak mempunyai dasar pembuktian historis yang memadai.
Tragedi dan kekerasan massal 1965–1966 merupakan fakta sejarah dan tragedi kemanusiaan. Penjelasannya membutuhkan kajian sejarah, politik, ekonomi dan sosial yang berbasis sumber, bukan atribusi kepada kekuatan supranatural tanpa bukti.
Perubahan hubungan politik Soeharto dengan kelompok-kelompok Islam pada penghujung 1980-an hingga awal 1990-an juga merupakan bagian penting dari sejarah politik Indonesia.
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) berdiri pada Desember 1990. Soeharto kemudian menunaikan ibadah haji pada 1991.
Rangkaian peristiwa tersebut memperlihatkan adanya perubahan politik yang kompleks dan tidak tepat jika dijelaskan hanya melalui satu faktor.
Ketika Ibu Tien wafat pada 28 April 1996, berkembang pula berbagai cerita mengenai hilangnya perlindungan atau penghubung spiritual Soeharto.
Namun, jatuhnya Orde Baru pada 1998 mempunyai sejumlah faktor historis yang dapat diteliti secara konkret, antara lain krisis finansial Asia, kejatuhan nilai rupiah, tekanan ekonomi, demonstrasi mahasiswa, keretakan elite politik dan krisis legitimasi pemerintahan.
Narasi spiritual dapat dikaji sebagai bagian dari mitologi politik, tetapi tidak seharusnya menggantikan penjelasan sejarah yang berbasis bukti.
Memasuki era Reformasi, Indonesia menggunakan sistem politik yang semakin terbuka.
Pemilu langsung, survei elektabilitas, quick count, konsultan politik, media massa, media sosial, big data dan kecerdasan buatan kini menjadi bagian dari kehidupan politik.
Namun, kepercayaan terhadap tradisi spiritual tidak sepenuhnya menghilang.
Sejumlah kajian sosial-politik menunjukkan bahwa praktik mendatangi tempat keramat, berkonsultasi dengan tokoh spiritual atau menjalankan ritual tertentu masih dapat ditemukan dalam kehidupan politik masyarakat.
Fenomena tersebut tidak membuktikan bahwa kekuatan supranatural menentukan hasil pemilu.
Namun, fenomena itu memperlihatkan bahwa rasionalitas modern dan kepercayaan tradisional dapat hidup berdampingan.
Seorang kandidat politik dapat menggunakan survei dan teknologi digital sekaligus menjalankan ikhtiar spiritual.
Di titik ini, penting membedakan antara agama, spiritualitas, kebatinan, tradisi budaya dan praktik perdukunan. Keempat istilah tersebut memiliki konteks dan pengertian yang berbeda dan tidak seharusnya dicampuradukkan.
Pada akhirnya, pertanyaan yang muncul bukan apakah Kanjeng Ratu Kidul menentukan siapa yang menjadi Presiden Indonesia.
Tidak terdapat bukti sejarah yang dapat digunakan untuk menyimpulkan hal tersebut.
Pertanyaan yang lebih relevan adalah mengapa bahasa spiritual tetap digunakan masyarakat dalam memahami kekuasaan, keberuntungan, kegagalan dan ketidakpastian.
Kerajaan telah berubah menjadi republik.
Tradisi lama hidup berdampingan dengan teknologi digital.
Legenda berdampingan dengan sejarah.
Keyakinan spiritual hidup bersama konstitusi, survei, data dan kecerdasan buatan.
Perubahan zaman ternyata tidak selalu menghapus ingatan peradaban.
Lapisan kebudayaan baru tumbuh di atas lapisan yang telah ada sebelumnya.
Kekuasaan dan Batas Manusia
Menurut MJP Hutagaol, perjalanan dari Avalokiteśvara dan Kwan Im, kosmologi Bali, tradisi Parangtritis-Parangkusumo, Kanjeng Ratu Kidul, Mataram, Soekarno, Soeharto hingga politik modern tidak membuktikan adanya satu kekuatan spiritual yang mengendalikan Indonesia.
Yang terlihat justru adalah bagaimana manusia menggunakan simbol, legenda dan tradisi untuk memahami hubungan antara alam, kehidupan dan kekuasaan.
Mitologi tidak harus diperlakukan sebagai fakta sejarah untuk memiliki arti.
Legenda dapat memperlihatkan bagaimana masyarakat memahami alam. Ritual dapat menjadi sarana mempertahankan ingatan budaya. Sementara cerita spiritual dapat menunjukkan cara manusia menghadapi sesuatu yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Kekuasaan dapat diperoleh.
Teknologi dapat dikuasai.
Data dapat dihitung.
Tetapi manusia tetap mempunyai keterbatasan dalam menghadapi alam, waktu, kehidupan, kematian dan masa depan.
Karena itu, menghormati tradisi tidak berarti harus mengubah legenda menjadi fakta. Sebaliknya, menjaga nalar ilmiah juga tidak berarti harus meremehkan keyakinan dan warisan budaya masyarakat.
Batas antara keduanya justru perlu dijaga.
Sejarah membutuhkan bukti. Tradisi membutuhkan konteks. Legenda membutuhkan kehati-hatian. Dan keyakinan membutuhkan penghormatan.
Pada akhirnya, pelajaran mengenai kekuasaan mungkin justru terletak pada kesadaran mengenai keterbatasan manusia.
Semakin besar kekuasaan yang dimiliki seseorang, semakin penting menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendalinya.
Penulis: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 13 Agustus 2026
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar