Kabut Asap Tebal di Jambi: Jarak Pandang 1.000 Meter, Dua Pesawat Gagal Mendarat
- account_circle Saud Maruntung
- calendar_month Minggu, 23 Agt 2026
- visibility 154
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jambi — Kabut asap tebal yang menyelimuti Kota Jambi pada Minggu (23/8/2026) pagi hingga siang mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Saifuddin Jambi.
Jarak pandang (visibility) di kawasan bandara dilaporkan turun drastis hingga hanya mencapai 1.000 meter. Kondisi tersebut menyebabkan dua penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta (CGK), menuju Jambi (DJB) terpaksa dialihkan (divert) ke bandara lain demi alasan keselamatan penerbangan.
General Manager PT Angkasa Pura Bandara Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Ardon Marbun, membenarkan adanya pengalihan pendaratan dua pesawat tersebut.
“Dampak kabut asap ini secara langsung memengaruhi dua jadwal kedatangan penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta Jakarta (CGK) menuju Jambi (DJB),” ungkap Ardon.
Pesawat pertama yang terdampak adalah Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6804. Pesawat jenis Airbus A320 dengan registrasi PK-LAT tersebut dipiloti Kapten Kemas Muhammad Fatur dan membawa 138 penumpang dewasa serta satu bayi.
Batik Air semula dijadwalkan mendarat di Bandara Sultan Thaha pada pukul 10.40 WIB. Namun, pada pukul 10.45 WIB, petugas Air Traffic Control (ATC) menginformasikan kepada tim Apron Movement Control (AMC) bahwa pesawat tersebut harus mengalihkan pendaratan ke Batam.
Pengalihan dilakukan karena jarak pandang di area landasan tidak memenuhi standar keselamatan penerbangan.
Tidak lama berselang, pesawat kedua milik Super Air Jet dengan nomor penerbangan IU 842 juga mengalami kondisi serupa. Pesawat jenis Airbus A320 dengan registrasi PK-STZ tersebut membawa 120 penumpang dewasa dan satu anak-anak.
Super Air Jet sedianya dijadwalkan tiba di Jambi pada pukul 11.25 WIB. Namun, karena kondisi cuaca dan jarak pandang yang belum membaik, penerbangan tersebut akhirnya dialihkan ke Palembang.
Ardon menjelaskan, kondisi jarak pandang di Bandara Sultan Thaha mengalami perubahan cukup signifikan sepanjang pagi hingga siang hari.
Pada pukul 09.30 WIB, jarak pandang masih berada di angka 5.000 meter. Namun, satu jam kemudian, tepatnya pukul 10.30 WIB, ketebalan kabut asap meningkat sehingga jarak pandang turun drastis menjadi 1.000 meter.
Kondisi tersebut bertahan hingga sekitar pukul 11.30 WIB.
Memasuki siang hari, kondisi cuaca mulai berangsur membaik. Jarak pandang di kawasan bandara kembali meningkat hingga mencapai 3.500 meter.
Kondisi tersebut memungkinkan penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta mendarat dengan selamat di Bandara Sultan Thaha pada pukul 13.44 WIB.
“Garuda siang sudah normal landing. Sementara ini masih Garuda yang bisa mendarat. Dua pesawat pagi yang dialihkan tadi hingga siang ini belum bisa mendarat di Bandara Sultan Thaha,” ujar Ardon.
Gangguan penerbangan akibat kabut asap tersebut menunjukkan bahwa kondisi jarak pandang menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan keselamatan operasional penerbangan. Pengalihan penerbangan dilakukan sebagai langkah antisipasi ketika kondisi di bandara belum memenuhi persyaratan keselamatan untuk pendaratan.
Wartawan MSM: Saud Maruntung Marbun
Media Suara Mabes — Mengabarkan Lugas, Tegas, dan Terpercaya
Jurnalis : Saud Maruntung
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 3 November 2025 sebagai Jurnalis Kota Tangerang - Prov. Banten. Email : saud.maruntung@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar