DANAU TOBA DAN LAHIRNYA PERADABAN BATAK: Menjaga Akar Budaya di Tengah Perubahan Zaman
- account_circle Suwoto
- calendar_month Senin, 22 Jun 2026
- visibility 310
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Marga Sebagai Perekat Persaudaraan
Keberadaan marga menjadi salah satu ciri khas masyarakat Batak yang masih bertahan hingga kini. Sistem marga diwariskan dari generasi ke generasi dan berfungsi sebagai identitas sosial yang memperkuat hubungan kekerabatan di mana pun orang Batak berada.
“Ketika dua orang Batak bertemu, pertanyaan mengenai marga hampir selalu menjadi awal percakapan. Dari sanalah hubungan kekerabatan ditelusuri dan rasa persaudaraan dibangun,” tulisnya.
Menurut MJP Hutagaol, keberlangsungan sistem marga di tengah arus globalisasi menunjukkan kuatnya fondasi budaya masyarakat Batak dalam menjaga identitasnya.
Dalihan Na Tolu, Falsafah Kehidupan
Tulisan tersebut juga mengulas tentang Dalihan Na Tolu yang merupakan falsafah hidup masyarakat Batak.
Dalihan Na Tolu terdiri atas tiga prinsip utama, yakni Somba Marhula-hula (menghormati pihak hula-hula), Manat Mardongan Tubu (menjaga persaudaraan sesama saudara), dan Elek Marboru (mengayomi serta menyayangi boru).
Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan dalam kehidupan modern karena mengajarkan keseimbangan, penghormatan, persatuan, musyawarah, serta kepemimpinan yang mengayomi.
“Dalihan Na Tolu bukan sekadar tata adat, tetapi juga mengandung nilai universal yang relevan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar