Brigjen Purn. MJP Hutagaol: Indonesia Harus Kembali ke Akar Nilai “Budi” di Era Kecerdasan Buatan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
- visibility 249
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes, Jakarta – Di tengah pesatnya laju perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan tantangan global yang semakin kompleks, Indonesia dinilai perlu melakukan refleksi mendalam atas jati dirinya. Brigjen Purn. MJP Hutagaol, Pembina Forum Komunikasi Keluarga Purnawirawan Baret Merah, menegaskan bahwa kunci kemajuan bangsa tidak hanya terletak pada penguasaan teknologi, melainkan pada penguatan karakter yang berakar pada nilai luhur “Budi”.
Dalam esai reflektifnya yang berjudul “Kembali Kepada Budi: Ketika Indonesia Mencari Jati Dirinya Kembali”, tokoh purnawirawan angkatan ’86 ini menyoroti pergeseran nilai dalam peradaban manusia modern. Ia menekankan bahwa meskipun manusia semakin cerdas dengan adanya konsep Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), Spiritual Quotient (SQ), hingga Adversity Quotient (AQ), namun kecerdasan tersebut acap kali tidak berjalan beriringan dengan kebijaksanaan moral.
”Mengapa Budi? Karena Budi adalah kompas moral. Budi bukan sekadar tata krama, melainkan fondasi karakter yang menentukan bagaimana ilmu pengetahuan, kekuasaan, dan teknologi digunakan. Tanpa Budi, kemajuan justru berpotensi menjadi ancaman bagi peradaban kita sendiri,” ujar MJP Hutagaol dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
MJP Hutagaol, yang juga merupakan tokoh senior di lingkungan Purnawirawan Baret Merah, mengingatkan pentingnya konsep Moral Quotient (MQ) dan Integrated Strategic Quotient (ISQ) sebagai upaya menyatukan seluruh kecerdasan manusia dalam tindakan yang bertanggung jawab. Ia menilai bahwa apa yang disebut sebagai MQ sesungguhnya telah lama menjadi napas hidup dalam adat istiadat dan kebudayaan Nusantara.
Merujuk pada gagasan Bung Karno mengenai Nation and Character Building serta sila keempat Pancasila, beliau menyoroti frasa “Hikmat Kebijaksanaan”. Menurutnya, para pendiri bangsa telah meletakkan fondasi yang sangat presisi bahwa keberlangsungan sebuah bangsa tidak cukup dipimpin oleh kecerdasan semata, melainkan oleh hikmat kebijaksanaan.
”Indonesia tidak akan menjadi bangsa besar hanya karena sumber daya alam yang melimpah atau teknologi yang canggih. Indonesia akan besar jika mampu melahirkan manusia-manusia yang berkarakter, berbudi, dan memiliki tanggung jawab moral terhadap sesama,” tegasnya.
Sebagai Pembina organisasi keluarga purnawirawan, ia mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya generasi muda, untuk tidak meninggalkan sejarah (Jas Merah). Ia berpesan agar nilai-nilai luhur Nusantara—seperti gotong royong, musyawarah, pengendalian diri, dan penghormatan kepada sesama—terus dipelihara di tengah gempuran arus digitalisasi.
”Masa depan Indonesia bukan hanya ditentukan oleh angka-angka ekonomi atau kemajuan infrastruktur fisik, melainkan oleh kualitas karakter manusia Indonesia itu sendiri. Mari kita kembali kepada Budi, agar kemajuan yang kita capai tetap berpijak pada kemanusiaan,” pungkasnya.
Tentang Penulis:
Brigjen Purn. MJP Hutagaol (Angkatan ’86) adalah sosok purnawirawan yang aktif memberikan pemikiran strategis mengenai pembangunan karakter bangsa dan saat ini menjabat sebagai Pembina Forum Komunikasi Keluarga Purnawirawan Baret Merah.
Redaksi Suwoto
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar