Seri Memahami ESTOM #13: Membaca Masa Depan Sebelum Ia Datang, dari Sensing Menuju Strategic Foresight
- account_circle Suwoto
- calendar_month Kamis, 27 Agt 2026
- visibility 129
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Kemampuan membaca perubahan sebelum berkembang menjadi krisis menjadi salah satu tantangan utama dalam kepemimpinan strategis. Hal tersebut dibahas Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol dalam Seri Memahami ESTOM #13 bertajuk “Membaca Masa Depan Sebelum Ia Datang: Dari Sensing Menuju Strategic Foresight”.
Dalam tulisannya, MJP Hutagaol menjelaskan bahwa strategic foresight bukan metode untuk meramalkan masa depan secara pasti, melainkan pendekatan untuk mengenali berbagai kemungkinan, memahami faktor perubahan, dan menyiapkan pilihan sebelum perubahan tersebut berdampak terhadap kepentingan strategis.
“Keunggulan bukan mengetahui masa depan. Keunggulan adalah mempunyai pilihan ketika masa depan datang,” tulisnya.
Foresight Bukan Ramalan
Berbeda dengan forecasting yang banyak menggunakan pola dan data historis untuk memperkirakan perkembangan, foresight mempertimbangkan berbagai kemungkinan masa depan. Pendekatan ini berangkat dari pemahaman bahwa masa depan tidak selalu menjadi kelanjutan lurus dari masa lalu.
Perubahan besar kerap diawali oleh tanda-tanda kecil atau weak signal. Perkembangan kecerdasan buatan generatif, kendaraan listrik, energi surya, telepon pintar, hingga media sosial menjadi contoh bagaimana teknologi yang awalnya terbatas dapat berkembang dan memengaruhi sistem secara luas.
Karena itu, kemampuan sensing tidak sekadar mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, tetapi menemukan informasi yang berpotensi mengubah pemahaman terhadap situasi.
Informasi perlu dibedakan antara noise, signal, trend, anomaly, dan weak signal. Proses tersebut dapat diperkuat melalui horizon scanning untuk memantau perkembangan geopolitik, geoekonomi, energi, teknologi, demografi, lingkungan, sosial, informasi, serta pertahanan.
Belajar dari Negara Lain
Menurut MJP Hutagaol, sejumlah negara telah membangun strategic foresight sebagai kapasitas institusional. Singapura, misalnya, memiliki Centre for Strategic Futures sejak 2009. Uni Eropa menggunakan foresight untuk mendukung perumusan kebijakan, perencanaan strategis, dan kesiapsiagaan.
Finlandia memiliki Committee for the Future di parlemen, sedangkan Uni Emirat Arab mengembangkan future foresight dalam perencanaan pemerintahan.
Praktik tersebut menunjukkan bahwa foresight tidak hanya digunakan untuk mengantisipasi ancaman, tetapi juga untuk menemukan peluang dan memperluas pilihan kebijakan.
Memperkuat Siklus ESTOM
MJP Hutagaol menegaskan strategic foresight tidak menambah unsur baru dalam ESTOM yang terdiri atas Environment, Sensing, Thinking, Operation, dan Maneuver.
Foresight justru memperdalam hubungan antara Sensing dan Thinking. Rangkaian pendekatan yang digunakan dapat berupa:
Horizon Scanning → Weak Signal → Trend → Anomaly → Scenario → Strategic Foresight
Dengan demikian, foresight membantu pemimpin tidak hanya memahami apa yang telah terjadi dan sedang berlangsung, tetapi juga mempersiapkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.
Dalam menghadapi perkembangan AI, misalnya, pemimpin perlu mempertimbangkan berbagai skenario, mulai dari peningkatan produktivitas, perubahan struktur pekerjaan, hingga integrasi AI dengan robotika, sensor, energi, dan sistem otonom.
Dari Antisipasi Menjadi Keputusan
Foresight tidak boleh berhenti pada pemikiran. Hasil pembacaan perubahan harus diterjemahkan menjadi keputusan melalui Operation dan Maneuver.
Jika perkembangan AI, kebutuhan energi pusat data, semikonduktor, robotika, dan sumber daya manusia digital semakin strategis, maka Thinking harus menguji dampaknya terhadap Indonesia. Selanjutnya, Operation menentukan langkah yang harus dilakukan, sementara Maneuver menentukan waktu, tempat, mitra, urutan, serta kecepatan pelaksanaannya.
Hubungan tersebut dapat dirumuskan:
FORESIGHT → PILIHAN → PRIORITAS → OPERATION → MANEUVER
Menurut MJP Hutagaol, strategi yang tepat tetapi terlambat dijalankan tetap berpotensi menghasilkan kegagalan.
Kepemimpinan Membutuhkan Dua Mata
Pada bagian akhir, MJP Hutagaol menggambarkan pemimpin strategis membutuhkan “dua mata”: satu melihat realitas hari ini dan satu lagi melihat kemungkinan hari esok.
Pemimpin yang hanya melihat masa depan berisiko kehilangan pijakan terhadap kondisi nyata. Sebaliknya, pemimpin yang hanya berfokus pada hari ini dapat kehilangan arah terhadap perubahan yang sedang berlangsung.
Karena itu, kepemimpinan strategis membutuhkan perpaduan realitas dan antisipasi.
Seri Memahami ESTOM #13 menegaskan bahwa perubahan masa depan sering kali mengirimkan tanda sebelum benar-benar terjadi. Tantangan bagi organisasi dan pemimpin adalah mengenali, menguji, memahami, serta menerjemahkan tanda tersebut menjadi keputusan dan tindakan.
Negara tidak harus mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi dalam 10 atau 20 tahun mendatang. Namun, negara perlu membangun kemampuan untuk membaca perubahan, mengenali sinyal, menguji asumsi, membangun berbagai skenario, menyiapkan pilihan, dan bergerak sebelum terlambat.
Pembahasan tersebut menjadi pengantar menuju Seri Memahami ESTOM #14 yang akan mengulas proses mengubah skenario menjadi keputusan, termasuk menentukan prioritas, trade-off, waktu, sumber daya, dan risiko di tengah ketidakpastian.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar