Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol: Gunung Tidar Simbol Fondasi Kepemimpinan Bangsa dan Jejak Peradaban Indonesia
- account_circle Suwoto
- calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
- visibility 239
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta — Gunung Tidar di Kota Magelang, Jawa Tengah, tidak hanya dikenal sebagai bentang alam yang memiliki nilai sejarah dan budaya, tetapi juga menjadi simbol penting dalam pembentukan karakter kepemimpinan bangsa. Hal tersebut diuraikan Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisannya berjudul “Gunung Tidar: Dari Pakuning Tanah Jawa Menuju Kawah Kepemimpinan Bangsa, Membaca Jejak Peradaban, Pertahanan, dan Fondasi Kepemimpinan Indonesia” yang ditulis di Jakarta pada 4 Agustus 2026.
Dalam kajiannya, MJP Hutagaol mengajak masyarakat memandang Gunung Tidar bukan sekadar situs sejarah atau simbol budaya Jawa, melainkan representasi pentingnya membangun fondasi karakter dalam melahirkan pemimpin yang berintegritas, disiplin, bertanggung jawab, dan mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.
Menurutnya, sejarah berbagai bangsa menunjukkan bahwa pemimpin besar tidak lahir secara instan. Kepemimpinan merupakan hasil dari proses panjang yang menempa karakter, integritas, tanggung jawab, keberanian mengambil keputusan, serta keteladanan dalam menjalankan amanah.
Dalam perspektif budaya Nusantara, Gunung Tidar dikenal dengan filosofi Pakuning Tanah Jawa, yang dimaknai sebagai penyangga atau fondasi kehidupan. Filosofi tersebut dipertegas melalui ajaran “Sapa Salah Seleh”, yang mengajarkan setiap pemimpin untuk berani mengakui kesalahan serta menempatkan kebenaran di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Tulisan tersebut juga mengulas perjalanan sejarah Magelang yang berkembang dari pusat pemerintahan Karesidenan Kedu pada masa Hindia Belanda menjadi kota garnisun, hingga kini dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan militer Indonesia yang telah melahirkan banyak perwira TNI dan tokoh nasional.
Bagi MJP Hutagaol, transformasi tersebut menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya berbicara mengenai perubahan fungsi suatu wilayah, tetapi juga mengenai pewarisan nilai-nilai luhur yang terus membentuk karakter generasi penerus bangsa.
Lebih lanjut, ia mengaitkan filosofi Gunung Tidar dengan konsep Kawah Candradimuka, yang dalam khazanah budaya Nusantara melambangkan proses pembentukan watak seorang pemimpin sebelum mengemban amanah besar.
Menurutnya, proses tersebut tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual maupun kemampuan fisik, tetapi juga membentuk kejujuran, integritas, kerendahan hati, kedisiplinan, serta keberanian menghadapi berbagai tantangan zaman.
Di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan transformasi digital, MJP Hutagaol menilai karakter tetap menjadi faktor utama yang menentukan kualitas kepemimpinan.
“Teknologi dapat mengubah cara manusia bekerja, tetapi tidak dapat menggantikan hati nurani, integritas, dan tanggung jawab seorang pemimpin,” tulis MJP Hutagaol dalam kajiannya.
Pada bagian akhir tulisannya, ia menegaskan bahwa Gunung Tidar menyimpan pesan universal mengenai pentingnya membangun manusia sebagai fondasi utama bangsa. Menurutnya, kemajuan suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi, teknologi, maupun kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas karakter para pemimpinnya.
“Bangsa yang ingin berdiri tegak harus lebih dahulu membangun manusia yang berkarakter. Gunung dapat tetap berdiri karena fondasinya. Bangsa dapat tetap tegak karena pemimpinnya. Dan pemimpin akan meninggalkan jejak peradaban apabila sepanjang hidupnya tidak pernah berhenti menempa dirinya sendiri,” demikian penutup tulisan tersebut.
Melalui kajian tersebut, Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memaknai Gunung Tidar sebagai simbol penting dalam membangun kepemimpinan nasional yang berkarakter, berintegritas, visioner, serta berorientasi pada kepentingan bangsa dan negara di tengah dinamika perkembangan zaman.
(Suwoto)
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar