Evolusi Pertahanan Indonesia Hadapi Ancaman Multidomain di Abad ke-21
- account_circle Suwoto
- calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
- visibility 170
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Perubahan lingkungan strategis global yang semakin kompleks menuntut Indonesia untuk terus mengembangkan sistem pertahanannya agar mampu menghadapi berbagai ancaman multidomain di abad ke-21. Hal tersebut disampaikan oleh Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisan bertajuk “Pertahanan Indonesia Abad ke-21: Perang Fondasi, Pertahanan Nir-Materi, dan Evolusi Strategi Pertahanan Nasional”.
Dalam bagian kedua tulisan tersebut, Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol mengulas evolusi pertahanan Indonesia, mulai dari filosofi perjuangan Panglima Besar Jenderal Soedirman hingga tantangan era modern yang ditandai dengan perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), ruang siber, teknologi satelit, serta ketergantungan global terhadap data dan energi.
Menurutnya, sejak awal kemerdekaan, Indonesia telah membangun konsep pertahanan yang khas melalui Sistem Pertahanan Semesta (Sishanta). Konsep tersebut menempatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai komponen utama yang didukung oleh seluruh potensi nasional, termasuk rakyat, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya.
“Perang kemerdekaan membuktikan bahwa keterbatasan persenjataan tidak selalu berarti kelemahan apabila bangsa memiliki kepemimpinan, legitimasi perjuangan, dukungan rakyat, dan kemampuan beradaptasi terhadap situasi yang dihadapi,” tulis Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai perjuangan yang diwariskan Jenderal Soedirman tetap relevan hingga saat ini. Namun, karakter ancaman yang berkembang telah berubah secara signifikan, tidak lagi hanya berupa agresi militer konvensional, tetapi juga mencakup serangan siber, manipulasi informasi, gangguan terhadap sistem energi, hingga ancaman terhadap ruang digital.
Perubahan tersebut, lanjutnya, menuntut evolusi dalam pelaksanaan tugas TNI, baik melalui Operasi Militer untuk Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Seiring perkembangan regulasi dan dinamika global, ruang lingkup OMSP terus mengalami penyesuaian untuk menghadapi spektrum ancaman yang semakin luas.
Dalam tulisannya, Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol juga memperkenalkan konsep Pertahanan Nir-Materi sebagai perspektif konseptual untuk memahami ancaman nonfisik yang berkembang pada abad ke-21.
Konsep tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan Sistem Pertahanan Semesta, OMP, maupun OMSP, melainkan sebagai kerangka pemikiran untuk memperluas cara pandang terhadap ancaman modern yang menyasar fondasi nonfisik kehidupan bangsa.
“Pertahanan Nir-Materi merupakan upaya strategis untuk menjaga dan memperkuat fondasi nonfisik bangsa seperti kepercayaan publik, kesadaran kebangsaan, ketahanan moral masyarakat, keamanan data strategis, ketahanan energi, ruang informasi, serta legitimasi institusi negara,” jelasnya.
Ia menilai bahwa pengalaman berbagai negara menunjukkan suatu bangsa tidak selalu dilemahkan melalui kekalahan militer. Dalam banyak kasus, pelemahan justru diawali oleh erosi terhadap fondasi nonfisik bangsa yang berlangsung secara perlahan.
Oleh karena itu, pembangunan pertahanan Indonesia di abad ke-21 tidak cukup hanya melalui modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) dan peningkatan profesionalisme prajurit, tetapi juga harus diimbangi dengan upaya memperkuat daya tahan nasional pada berbagai aspek nonfisik.
Tulisan ini menjadi bagian dari rangkaian pemikiran strategis mengenai pertahanan Indonesia abad ke-21 yang akan berlanjut pada bagian ketiga dengan pembahasan lebih mendalam mengenai konsep Pertahanan Nir-Materi.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar