Mengapa AI Tidak Akan Pernah Menjadi Manusia: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol Tekankan Pentingnya Hati Nurani di Era Kecerdasan Buatan
- account_circle Suwoto
- calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
- visibility 196
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI), Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi berkembang, AI tidak akan pernah mampu menggantikan nilai-nilai kemanusiaan yang bersumber dari hati nurani.
Pandangan tersebut disampaikan melalui sebuah tulisan reflektif yang diterima MediaSuaraMabes, Sabtu (4/7/2026), sebagai respons atas semakin luasnya pemanfaatan kecerdasan buatan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, pemerintahan, bisnis, hingga pengambilan keputusan.
Menurut MJP Hutagaol, perkembangan AI menandai babak baru dalam sejarah peradaban manusia. Jika pada masa lalu teknologi diciptakan untuk memperkuat kemampuan fisik manusia, kini AI hadir sebagai teknologi yang mampu membantu proses berpikir melalui analisis data, penyusunan informasi, penerjemahan bahasa, hingga penyelesaian berbagai persoalan secara cepat.
Namun, di balik kemajuan tersebut muncul pertanyaan mendasar mengenai batas antara kemampuan teknologi dan hakikat kemanusiaan.
“Bukan AI yang sedang belajar menjadi manusia, melainkan manusialah yang sedang diuji apakah masih memahami makna menjadi manusia,” tulis MJP Hutagaol.
Ia menilai bahwa selama berabad-abad manusia menganggap kecerdasan sebagai pembeda utama dengan makhluk lain. Kini, ketika sebagian kemampuan intelektual mulai dapat dilakukan oleh mesin, manusia justru dituntut menemukan kembali nilai yang tidak dapat direplikasi oleh teknologi.
Menurutnya, manusia bukan hanya makhluk yang mampu berpikir, tetapi juga memiliki kesadaran diri, integritas, empati, kasih sayang, kemampuan berkorban, serta tanggung jawab moral atas setiap keputusan yang diambil.
Dalam pandangannya, AI memang mampu menghasilkan jawaban, menyusun analisis, bahkan menjelaskan berbagai konsep moral. Namun, AI tidak memiliki kesadaran atas jawaban yang diberikan maupun tanggung jawab etis terhadap dampak dari keputusan tersebut.
“AI dapat menjelaskan makna kejujuran, tetapi tidak memiliki integritas. AI dapat berbicara mengenai kasih sayang, tetapi tidak pernah merasakan kasih sayang. AI mampu menyusun argumentasi tentang keadilan, tetapi tidak memikul tanggung jawab moral ketika keadilan itu gagal diwujudkan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, MJP Hutagaol menegaskan bahwa perkembangan AI pada dasarnya bukan ancaman bagi kemanusiaan. Ancaman justru muncul apabila manusia mulai menyerahkan pertimbangan moral sepenuhnya kepada teknologi.
Ia mengibaratkan AI sebagaimana berbagai penemuan besar sepanjang sejarah. Api dapat menghangatkan sekaligus membakar, energi nuklir dapat menerangi kota sekaligus menghancurkan kehidupan. Oleh karena itu, nilai suatu teknologi sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang menggunakannya.
Dalam tulisannya, ia juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya berfokus pada pertanyaan mengenai seberapa canggih AI yang mampu diciptakan, melainkan apakah manusia mampu meningkatkan kebijaksanaan seiring dengan laju kemajuan teknologi.
Menurutnya, apabila manusia mampu mengembangkan kebijaksanaan, AI akan menjadi mitra strategis dalam membangun peradaban yang lebih maju, adil, dan beradab. Sebaliknya, tanpa kebijaksanaan, teknologi yang semakin canggih justru berpotensi memperbesar berbagai kelemahan manusia.
MJP Hutagaol menutup refleksinya dengan menegaskan bahwa masa depan tidak akan ditentukan oleh mesin yang paling cerdas, melainkan oleh manusia yang paling bijaksana dalam memanfaatkan kecerdasan yang dimilikinya.
“Sejarah tidak akan mengingat mesin yang paling cerdas. Sejarah akan mengingat manusia yang paling bijaksana dalam menggunakan kecerdasannya,” tutupnya.
Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah transformasi digital yang berlangsung sangat cepat, nilai-nilai kemanusiaan seperti hati nurani, empati, keadilan, tanggung jawab, dan kebijaksanaan tetap menjadi fondasi utama dalam menentukan arah masa depan peradaban.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar