Pertahanan Indonesia Abad ke-21: Konsep Perang Fondasi Jadi Perspektif Baru Hadapi Ancaman Modern
- account_circle Suwoto
- calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
- visibility 197
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes | Jakarta – Dinamika lingkungan strategis global yang terus berkembang menuntut adanya perubahan paradigma dalam memandang sistem pertahanan nasional. Perubahan karakter peperangan di abad ke-21 dinilai tidak lagi hanya berfokus pada penghancuran kekuatan militer konvensional, melainkan telah bergeser pada perebutan fondasi kehidupan suatu bangsa.
Hal tersebut diungkapkan oleh Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol dalam tulisan berjudul “Pertahanan Indonesia Abad ke-21: Perang Fondasi, Pertahanan Nir-Materi, dan Evolusi Strategi Pertahanan Nasional” yang diterbitkan di Jakarta, Kamis (26/6/2026).
Menurut MJP Hutagaol, sejarah menunjukkan bahwa perang selalu mengalami evolusi seiring perkembangan peradaban manusia. Jika pada masa lalu konflik lebih banyak dipicu oleh perebutan wilayah, sumber daya, maupun dominasi militer, maka pada era modern sasaran peperangan telah berkembang ke ranah yang lebih kompleks.
“Perang modern tidak lagi semata-mata bertujuan menghancurkan pasukan lawan, tetapi lebih diarahkan pada penguasaan fondasi yang menopang keberlangsungan suatu negara,” tulisnya.
Ia menjelaskan, kemajuan teknologi informasi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), ruang siber, satelit, hingga integrasi ekonomi global telah mengubah wajah peperangan menjadi konflik multidomain yang berlangsung secara simultan di berbagai ruang, mulai dari darat, laut, udara, siber, informasi, hingga ruang kognitif.
Dalam kajiannya, MJP Hutagaol memperkenalkan konsep “Perang Fondasi” sebagai perspektif analitis untuk memahami konflik modern. Konsep tersebut memandang bahwa berbagai bentuk peperangan masa kini pada akhirnya bermuara pada upaya menguasai atau melemahkan tiga fondasi utama kehidupan suatu bangsa, yakni energi, data, dan persepsi.
Menurutnya, energi menjadi elemen vital karena menopang seluruh aktivitas pemerintahan, industri, hingga pelayanan publik. Sementara data telah berkembang menjadi sumber daya strategis yang menentukan proses pengambilan keputusan di berbagai sektor.
Adapun persepsi publik dinilai memiliki peran penting dalam menjaga legitimasi negara, stabilitas politik, serta kohesi sosial di tengah derasnya arus informasi digital.
“Ketika energi terganggu, data diserang, dan persepsi publik dimanipulasi secara bersamaan, maka kemampuan negara menjalankan fungsi-fungsi strategisnya dapat melemah tanpa harus mengalami kekalahan militer secara konvensional,” jelasnya.
Lebih lanjut, MJP Hutagaol menilai sistem pertahanan Indonesia perlu terus beradaptasi dengan perubahan karakter ancaman global. Menurutnya, paradigma pertahanan masa depan harus mampu menjawab tantangan perang multidomain, kecerdasan buatan, ruang siber, ruang angkasa, serta perebutan fondasi strategis bangsa.
Tulisan ini menjadi bagian pertama dari rangkaian kajian mengenai evolusi pertahanan Indonesia yang akan berlanjut pada pembahasan tentang relevansi Sistem Pertahanan Semesta di era modern serta konsep Pertahanan Nir-Materi dalam menghadapi tantangan abad ke-21.
(Suwoto)
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar