Geopolitik Dunia di Ambang Tatanan Baru: Konflik Timur Tengah dan Tantangan bagi Indonesia
- account_circle Suwoto
- calendar_month Senin, 22 Jun 2026
- visibility 404
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MediaSuaraMabes, Jakarta – Dinamika geopolitik global saat ini menunjukkan pergeseran besar dalam tatanan dunia. Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel tidak lagi sekadar dipandang sebagai konflik regional di Timur Tengah, melainkan telah berkembang menjadi isu strategis yang memengaruhi stabilitas ekonomi, keamanan, dan politik internasional.
Brigjen TNI (Purn.) M.J.P. Hutagaol menilai, pada abad ke-21 kekuatan suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh superioritas militer, tetapi juga oleh kemampuan menguasai energi, jalur perdagangan, teknologi, data, diplomasi, serta persepsi global.
Menurutnya, hubungan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel menjadi salah satu poros utama yang menentukan stabilitas Timur Tengah sekaligus memengaruhi keseimbangan geopolitik dunia. Di balik rivalitas ketiga negara tersebut, terdapat kepentingan strategis yang lebih luas, mulai dari keamanan energi, perdagangan internasional, hingga perebutan pengaruh antar kekuatan besar.
“Geopolitik modern tidak lagi berjalan secara hitam putih. Di satu sisi terdapat tekanan militer, sanksi ekonomi, dan perang informasi, namun di sisi lain diplomasi tetap menjadi instrumen penting untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas,” ujar Hutagaol dalam kajiannya di Jakarta, Kamis (19/6/2026).
Selat Hormuz, Urat Nadi Energi Dunia
Salah satu kawasan paling strategis dalam percaturan geopolitik global adalah Selat Hormuz. Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia serta sebagian besar ekspor gas alam cair (LNG) dari kawasan Teluk.
Gangguan keamanan di Selat Hormuz diyakini dapat berdampak langsung terhadap harga energi dunia, biaya logistik, premi asuransi pelayaran, hingga stabilitas pasar keuangan global.
Negara-negara produsen energi utama seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab sangat bergantung pada kelancaran jalur tersebut. Karena itu, setiap peningkatan ketegangan di kawasan akan selalu menjadi perhatian masyarakat internasional.
Jurnalis : Suwoto
Bergabung di Media Suara Mabes (MSM) sejak tanggal 26 April 2021 sebagai Redaktur. Email : suwoto@mediasuaramabes.co.id

Saat ini belum ada komentar